Rabu, 16 Desember 2015

(Teruslah) Berjalan dan Bernyanyi

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak
(15 November 2013)

Aku tak peduli  suara hujan yang memukul-mukul dedaunan
Dengan tongkat dan sepatu jerami aku masih dapat bernyanyi dan berjalan pelan bukan ?
Badai yang menghadang ?
Kenapa takut ?
Angin dingin menusuk nusuk kulit
Kenapa khawatir ?
Awan badai menutup mentari
Kenapa ngeri ?

Aku hanya perlu terus berjalan dan bernyanyi
Itu akan padamkan jeri
Aku akan raih puncak gunung jauh di sana,
matahari terbenam yang mengganti derasnya hujan
akan datang menyambutku.
Aku akan injak dan hapus lelahku di atas sana
Aku yakin horison siap menerimaku
Memandikanku dengan gemercik warna-warninya

Aku (Masih) Hidup

Oleh: Presli Panusunan Simanjuntak
(14 November 2013)

Aku hidup karena aku masih hidup
Tak perlu suatu alasan kenapa aku masih hidup
Aku bernafas karena saat ini udara masih keluar masuk paru-paruku
Tak perlu suatu alasan kenapa aku masih bernafas

Jalanku diterjang…
Orang-orang mencaciku..
Mengaanggapku  jalang…


















Aku tak punya alasan untuk tak disebut jalang
Yang aku tahu aku hanya punya satu alasan untuk selalu mecari  alasan…

Senin, 16 November 2015

Rizal Ramli dan Perubahan Iklim

                                         Oleh : IGG Maha Adi
   Direktur The Society of Indonesian Environmental Journalist
                                               KORAN TEMPO, 16 September 2015                                                                                                                                  
Apabila Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli konsisten dengan sikapnya menolak proyek listrik bertenaga batu bara 35 ribu megawatt, ia layak menjadi climate champion. Meski tidak pernah menghubungkan sikapnya dengan isu perubahan iklim atau komitmen penurunan emisi pemerintah, rasionalisasi Menteri Rizal dalam menjelaskan proyek listrik itu sedang berhadapan dengan salah satu sumber energi yang mengemisikan karbon paling tinggi.

Menteri Rizal menohok klaim proyek itu pada nilai ekonominya. Ia yakin rencana pembangunan pembangkit listrik batu bara 35 ribu MW plus 7 MW tersisa dari zaman Presiden Yudhoyono, ditambah pula kapasitas seluruh pembangkit yang beroperasi saat ini, tidak realistis karena menyebabkan kelebihan daya 21 ribu MW. Kelebihan itu bisa menyulitkan Perusahaan Listrik Negara, karena harus membeli 72 persen daya tersisa. Ia menyarankan target itu diturunkan menjadi dua pertiga atau setengahnya. Ini sebuah kabar baik untuk target pengurangan emisi nasional.