Kamis, 05 Oktober 2017

CURRICULUM VITAE

Doakan Kerjamu, Kerjakan Doamu
Yakinlah Kau Sukses
#PencintaIlmuIklim

Presli Panusunan Simanjuntak, lahir di Kota Pematangsiantar, 06 Juni 1996. Saat ini sebagai Mahasiswa (Taruna) Tugas Belajar di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Pencinta ilmu kebumian dan iklim





   





PENDIDIKAN FORMAL


Tahun 2002- 2008
: SD RK Budi Mulia 3 Kabupaten Simalungun
Tahun 2008- 2011
: SMP Budi Mulia Kota Pematangsiantar
Tahun 2011- 2014
: SMA Budi Mulia Kota Pematangsiantar
Tahun 2014- 2015
: Diploma 1 (D1) Klimatologi- STMKG
Tahun 2017- Sekarang
: Tugas Belajar Diploma IV (DIV) Klimatologi STMKG



PENGALAMAN KERJA

1. Pengamat Cuaca (Observer) di Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir (Bandar UdaraUdara Depati Amir) Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Maret 2016- Januari 2017)

2.   Pengamat Cuaca (Observer) di Stasiun Klimatologi Kelas IV Koba Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Januari 2017- Maret 2017)

3.   Pengajar Matematika dan Fisika di Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) A&B Jakarta (2015- 2016)

4.   Panitia Sekolah Lapang Iklim Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (2016)

5.   Panitia Sosialisasi Pos Hujan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (2016)




PENGALAMAN ORGANISASI

1.   Ketua Areka (Anak Remaja Katolik) Gereja St. Maria Perumnas Kab. Simalungun (2009-2010)

2.   Wakil Ketua Kerohanian Katolik (Rokat) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2017 – sekarang)

3.   Anggota Paduan Suara (Padus) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2014- sekarang)

4.   Devisi Internal IPTEK dan Jurnalistik (IPJ) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2014 – sekarang)

5.   Kepala Keprofesian Klimatologi - Himpunan Taruna Meteorologi Klimatologi (HTMK) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2017- sekarang)



PUBLIKASI ILMIAH & PENGALAMAN PEMATERI ORAL


1.   Simanjuntak, P.P. 2016. Respon Suhu dan Kelembapan Udara Saat Kejadian Gerhana Matahari Total, 9 Maret 2016. Buletin Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Vol 6 No. 5. ISSN 2088- 9151

2.   Pemateri Oral pada Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya (SENFA) Universitas Padjajaran Bandung. Judul : Analisis Karakteristik Curah Hujan Dan Kurva Intensity Duration Frequency (IDF) di Palembang. 22 Juli 2017


PUBLIKASI POPULER

1.   Kabut Asap Riau Ganggu Sumatera Utara. Harian Analisa, 3 September 2015

2.   Mengkondisikan Iklim Melayu Deli. Waspada Online, 21 Oktober 2015.

3.   Iklim Dunia Bergantung Hutan Indonesia, Majalah Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Edisi Januari 2016.

4.   Seriuskah Indonesia Menghadapi Perubahaan Iklim, Majalah Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Edisi Januari 2017.


PRESTASI & PENGHARGAAN

1.   Juara II Menulis Puisi Lentera Pos 2012

2.   Beasiswa Pendidikan Diploma I BMKG 2014.

3.   Beasiswa Pendidikan Diploma IV BMKG 2017. 

Sabtu, 02 April 2016

MENGENALI CUACA DENGAN TANDA TANDA ALAM

Oleh : Achmad Zakir
(Dosen Tetap Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika)

Apa yang ada di pikiran kita ?, ketika melihat awan gelap ? pasti jawabannya sebentar lagi hujan deras , tapi tiba-tiba justru sebaliknya cuaca dengan cepatnya berubah menjadi cerah. Apa yang menyebakan itu semuanya, bagi pakar cuaca sudah biasa dengan keadaan seperti itu, tapi bagi masyarakat awam malah heran dan aneh. Bahkan ketika cuaca cerah keesokan harinya malah hujan lebat terus menerus sehingga mengakibatkan bencana seperti banjir, bencana lagi....!!
Bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan terus merajela di permukaan bumi ini termasuk Indonesia . Tidak hanya Indonesia saja tapi bencana melanda juga negara manca negara, sebagian para pakar cuaca mengatakan bahwa benncana ini diakibatkan dari perubahn iklim ada juga yang mengatakan perubahan lingkungan akibat, sebagian lagi mengatakan hanya variabilitas iklim bahkan ada juga mengatakan bencana yang terjadi disuatu Negara turut andil untuk memicu bencana di Negara lainnya, benarkah demikan ? bencana seperti banjir dan tanah longsor selalu dikaitkan dengan cuaca ekstrim, cuaca ekstrim dikaitkan dengan siklon tropis, siklon tropis dikaitakan dengan El Nino atau La Nina atau Maddem Julian Oscilation atau Dipole Mode dan sebagainya.
Dari rentetan kejadian bencana akibat cuaca ekstrim yang hampir setiap tahun terjadi, memicu para pakar meteorologi berupaya untuk mengemukan hasil analisanya atau bahkan memberikan prediksi cuaca kedepannya. Hasil kajian atau analisanya dan prediksi nya menggunakan prinsip-prinsip fisika dan matematika atau metode-metode ilmiah, itupun tingkat akurasinya belum memuaskan. Kenapa belum memuaskan, karena salah satu penyebannya melupakan skala meteorologi atau skala fenomena cuaca. Skala ini sangat berguna untuk menganalisa cuaca dalam ruang dan waktu, sebab cuaca adalah fungsi ruang dan waktu. Tidak ada salahnya, dalam tulisan ini menjelaskan kembali tentang skala meteorologi, sebagai ilustrasi saja bahwa dalam membuat analisa cuaca, seorang prakirawan wajib memahami tentang skala meteorologi karena hal ini sangat penting, agar hasil analisanya sesuai dengan fenomena cuaca yang terjadi (zakir, 2008). Adapun skala meteorologi yang dikemukan oleh Lembaga Meteorollgi Dunia (WMO, 1980), yaitu :

Rabu, 16 Desember 2015

Mengkondinisikan Iklim Melayu deli

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak
Taruna Aktif Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Dimuat di Waspada- Artikel Pembaca , 21 Oktober 2015

Kota Melayu Deli atau kota Medan adalah kota metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa dan kota terbesar ketiga di Indonesia. Sebagai kota metrpolitan, Medan banyak dirundung masalah- masalah yang sifatnya simple hingga ketingkat yang lebih kompleks. Masalah- masalah yang merundung kota Medan bisa datang dari geografis, SDM (Sumber Daya Manusia)  dan atau Manajemen SDM yang mejalankan kota Medan.
Kota Medan

Kompleksitas iklim di Medan menambahkan deretan masalah kota ini. Karena dekat dengan Khatulistiwa, Medan terogolong daerah beriklim tropis. Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata tahunan di Medan adalah 26,8 0C. Dalam setahun, curah hujan rata-rata kota Melayu Deli ini adalah 2137 mm. Terdapat curah hujan yang signifikan sepanjang tahun di Medan. Bahkan bulan terkering yang biasanya jatuh pada bulan Februari masih memiliki banyak curah hujan yaitu berkisar 90 mm.