Sabtu, 13 Oktober 2018

Pemuda dan Perubahaan Iklim


Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak

Keberhasilan dalam mencapai persetujuan dalam agenda besar Paris Agreement yang berisi pernyataan komitmen negara pihak melalui kerangka konvensi PBB tentang perubahaan iklim  menjadi lembaran baru dalam perjalanan sejarah negosiasi perubahan iklim. Persetujuan ini menghasilkan kesepakatan menurunkan emisi gas rumah kaca (mitigasi) pada tahun 2030 sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan sampai dengan 41% bila dengan dukungan internasional. Titik komitmen ini tentu tak lepas dari campur tangan aksi dan peran pemuda serta aktivis iklim. Namun, semangat aksi dan gelora peran yang ditancapkan oleh pemuda tak boleh padam sampai disini. Kedepannya, Pemuda akan memikul beban berat dipundaknya serta akan menguras semangat pemikirannya untuk meralisasikan dan mengawal hasil komitmen yang telah disepakati bersama ini.
Perubahaan iklim kini menjadi komoditi yang akan selalu kita “komsumsi” saat ini. Peningkatan suhu, pergeseran musim, polusi yang semakin akut, bencana hidrometeorologis (banjir, longsor,kekeringan) karena pola hujan tak menentu menjadi alasan kuat kita untuk selalu membicarakan tentang perubahaan iklim.  Menurut data IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) suhu rata-rata global menujukan peningkatan signifikan mencapai  0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Peningkatan suhu yang menjadi salah satu latar belakang berubahnya iklim kita menjadi sub komoditi penting yang harus selalu kita kampanyekan.

Keberanian Pemuda, Syarat Kampanye Perubahaan Iklim

Perubahaan iklim di Indonesia secara khusus telah memberikan dampak serius serta mengganggu stabilitas terhadap berbagai sektor seperti kesehatan, pertanian dan perekonomian. Saat ini, Indonesia menjadi rumah bagi 63,36 juta jiwa pemuda berusia 16 tahun-30 tahun (Data BPS,2017) atau dengan kata lain ¼ jumlah manusia di Indonesia. Gelora semangat dan sumbangsih pemikiran pemuda Indonesia sangat diharapkan dan akan menjadi garda terdepan sebagai penjaga “rumah” Indonesia dari ancaman-ancaman perubahaan iklim yang semakin hari semakin menyerang.
Keberanian dan kepemimpinan pemuda merupakan kunci dalam mengubah arah kebijakan pembangunan berbasis iklim di Indonesia serta menjadi syarat mutlak untuk mengkampanyekan gerakan perubahaan iklim. Seluruh pemuda Indonesia diharapkan terlibat aktif dalam gerakan peduli perubahaan iklim dimulai dari diri sendiri. Setalah itu, Pemuda harus berani mengajak adik-adik dan orangtua untuk mengeloran semangat peduli perubahaan iklim.    

Pemuda Harus Keluar Dari “Circle” Penyebab Perubahaan Iklim

            Untuk berani mengkampanyekan perubahaan iklim, pemuda dituntut untuk menjadi agent of change dan keluar dari “circle” penyebab perubahaan iklim. Saat ini pemuda Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar gas karbon monoksida (CO) dari emisi kendaraan bermotor yang sering digunakan pemuda. Membuang kertas sembarang yang sering dilakukan pemuda berusia sekolah hingga perguruan tinggi juga dapat menyebabkan pohon-pohon di hutan dipaksa untuk melayani kebutuhan kertas yang kita gunakan. Penggunaan listrik dan air yang berlebihan juga menjadi aspek dalam penyebab perubahaan iklim karena saat ini penggunaan listrik dan air Indonesia menggunakan energi dan energy tersebut tentu menghasilkan emisi yang tak baik untuk kesehatan iklim kita.
            Pemuda Indonesia harus menyadari pentingnya peduli dengan iklim dan gejala perubahaannya. Pemuda Indonesia harus keluar dari zona nyaman dan berani meninggalkan kebiasaan buruk yang dapat merusak kesehatan iklim kita. Dengan mengaplikasikan hidup dengan meminimalisasi emisi tentu kita dapat menjadi tameng dalam perlawanan bangsa ini menghadapi perubahaan iklim.

Upaya Mitigasi Perubahaan Iklim, Pemuda dituntut Kreatif

            Serangkain upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik, maupun bentuk penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana harus menjadi pedoman primer masyarakat Indonesia khususnya pemuda dalam menghadapi perubahaan iklim. Pemuda dituntut memiliki kreatifitas dalam melakukan upaya mitigasi dan adaptasi untuk tetap selaras dengan perubahaan iklim. Pemuda-pemuda yang masih kategori pelajar dan mahasiswa bisa membuat organisasi pemuda pecinta lingkungan atau semacamnya dilingkungan sekolah, tempat tinggal atau universitasnya. Melakukan daur ulang sampah menjadi suatu yang berguna, ikut serta dan menjadi kreator kebersihan dan kesehatan lingkungan, ikut serta mengkapanyekan kepedulian terhadap iklim lewat sosial media adalah beberapa langkah strategis yang mungkin bisa dilakukan pemuda Indonesia untuk menjadi pondasi kampanye iklim Indonesia.
            Pemuda Indonesia adalah generasi penerus bangsa dan negara yang besar adalah negara yang menghargai lingkungannya untuk tetap menjadi besar. Pemuda harus kreatif dalam memainkan peran sebagai garda terdepan pelindung bangsa dari ancaman dan dampak perubahaan iklim yang dapat menghancurkan cita-cita bangsa.Pemuda harus bergerak dan ikut serta mengkapanyekan perubahaan iklim dimana dan kapanpun. PEMUDA INDONESIA CINTA INDONESIA, PEMUDA INDONESIA SUARAKAN PERUBAHAAN IKLIM!!


Jumat, 22 Desember 2017

Banjir dan Perubahaan Iklim : Bisakah Kita Menghindar Darinya ?

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak

Setiap tahun, laju pembangunan secara global dan nasional selalu meningkat, kondisi ini semakin diperparah karena pembangunan hanya menitikberatkan hanya pada pembangunan fisik semata tanpa memperhatikan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan (suistanable development). Peningkatan produksi gas rumah kaca serta pengalihfungsian lahan mengakibatkan pemanasan global dan terganggunya tatanan iklim yang sudah ada.

Kita tahu bahwa wilayah Indonesia adalah supermarket bencana, dimungkinkan karena faktor geografi dan geologi wilayah Indonesia. Akan tetapi, terganggunya tatanan iklim dikarenakan beberapa faktor tadi diyakini akan membuat Indonesia semakin manja akan bencana. Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang diambil dari situsnya di http://dibi.bnpb.go.id/ pada tahun 2016 tercatat Indonesia mengoleksi 2.342 peristiwa bencana. Yang membuat kita semakin ternganga dan tak habis pikir adalah jumlah kejadian bencana tahun 2016 ini adalah yang tertinggi sejak BNPB melakukan pencatatan jumlah kejadian bencana pertama di tahun 2002. Selanjutnya , ditahun 2017 setidaknya sudah ada 1500an kejadian bencana yang menyelimuti Indonesia (update Agustus 2017) dan diprediksi akan semakin bertambah setiap tahunnya. 

Banjir menggerayangi Indonesia
            Dari data yang diambil dari situs BNPB, didapatkan fakta bahwa bencana Hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, putting beliung, longsor dan sebagainya adalah bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dengan jumlah persentase lebih dari 90%. dan jika diperkecil lagi akan didapatkan fakta bahwa bencana banjir adalah yang paling sering menggerayangi Indonesia dengan hampir lebih dari 40 % dari seluruh kejadian bencana hidrometerologi yang terjadi.
            Ada banyak sekali teori yang dapat menjelaskan mengapa banjir sangat suka menggerayangi negeri kita, mulai dari curah hujan Indonesia yang tinggi, sistem drainase dan pengairan yang ada di Indonesia, dan banyak sekali teori yang dapat kita gunakan untuk men-judge mengapa Indonesia rawan banjir.

Hasil gambar untuk banjir dan perubahaan iklim
(sumber : National Geographic)

Banjir ? Fenomena Cuaca atau Perubahaan Iklim ?

Fenomena cuaca adalah kejadian langka yang terjadi akan tetapi tidak dapat dijadikan acuan atau bukti dari dampak perubahan iklim. Nah, dari defenisi tersebut apakah banjir merupakan fenomena cuaca dan sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan perubahaan iklim ? Peneliti iklim terkemuka, Mojib Latif mengatakan untuk mencapai kesimpulan tersebut harus diamati perkembangan jangka panjang selama beberapa puluh tahun.

"Jika kita menganalisa curah hujan beberapa puluh tahun terakhir, maka terlihat frekuensinya hampir dua kali lipat lebih sering dari 100 tahun sebelumnya", tambah dia.

Peneliti iklim dari Jerman  Gerhard Lux meninjau dari ilmu statistik. Ia mengatakan, curah hujan ekstrim tidak bisa dibuktikan secara detail dan sangat berbeda dengan trend kenaikan suhu. Tapi berdasarkan model iklim, ia setuju bahwa terjadi peningkatan curah hujan.

Secara fisika, pemanasan global kemungkinan memilki dapak terhadap kenaikan curah hujan. Kadar air di udara tergantung dari suhu, suhu lah yang menjadi pangatur ritme seberapa banyak air yag bisa menguap. Semakin tinggi suhu, semakin banyak air yang menguap bukan ? Nah, semakin banyak air yang menguap secara logika akan semakin besar potensi turunnya hujan deras. Akan tetapi banyak faktor lain selain suhu tentunya yang juga bisa mempengaruhi peluang terjadinya hujan. Dari beberapa pendapat ahli tersebut, secara tidak langsung perubahaan iklim berkolerasi sangat baik dengan bancana hidrometeorologi yang terjadi khususnya bencana banjir.

Jumat, 17 November 2017

Perubahaan Iklim itu Tabu (Katanya)

Oleh Presli Panusunan Simanjuntak

Mungkin banyak diantara kita yang sudah sering mendengar kata ini “Perubahaan Iklim”. Gaungan serta teriakan isu perubahan iklim semarak menghampiri telinga mungkin hampir setiap hari. Sebenarnya Perubahaan Iklim itu sulit terdefenisikan oleh tindakan, karena merupakan hal tabu yang tak pernah bersentuhan langsung dengan kita atau dengan kata lain dampaknya tidak kita rasakan secara langsung.
Pergantian suhu panas kedingin, dingin kepanas sudah sering kita lewati dan rasakan hampir setiap hari kulit merasakannya, tapi apa kita juga sempat berpikir jika pergantian panas dan dingin dari cuaca yang sering kita hadapi lambat laun semakin aneh saja, terkadang cuaca panas akan terasa sangat panas berbeda dengan hari lain atau dingin berubah menjadi sangat dingi berbeda dengan hari yang lalu. Memang sih, sirkulasi atmosfer yang menyebabkan panas dan dingin akan silih berganti menusuk kulit karena cuaca.

Hasil gambar untuk perubahaan iklim

Akan tetapi, tahukah sobat sekalian aktivitas manusia juga bisa mengganggu tatanan atmosfer kita. Ozon yang berlubang, gas metana (CH4) yang berhamburan, CO2 yang menyesakkan. Sebenarnya bumi itu hebat loh sobat. Bumi itu bisa menyesuaikan dirinya dengan menetralisir gas-gas berbahaya tadi yang mungkin bisa menyebabkan terganggunya tatanan atmosfer kita. Akan tetapi sobat sekalian harus tahu juga, Bumi punya kapasitas yang tidak tak terbatas sebagai power daya stabil untuk kondisi atmosfer kita.
Nah, ketika sobat- sobat sekalian membuang sampah sembarang, menebang pohon, menggunakan pendingin ruangan dengan berlebihan, kotoran hewan ternak sobat menghasilkan begitu banyak metana dan lain halnya yang dapat membuat bumi bekerja ekstra keras untuk menetralisir itu semua. Sobat sekalian, seperti yang saya katakana tadi, Bumi itu power atau kemampuannya tidak tak terbatas jadi akan ada suatu titik dimana bumi tidak sanggup lagi melaksanakan tugasnya untuk menjaga bumi kita jika kondisinya tetap seperti ini.
Oke, sobat

Erupsi Gunung Sinabung Pengaruhi Perubahaan Iklim

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak

Erupsi gunung Sinabung kini menjadi bencana nasional yang viral di Indonesia bahkan dunia. Siapa yang menyangka, deleng sinabung dengan ketinggian 2.451 meter mendadak aktif kembali dan meletus setelah ratusan tahun tertidur. Gunung api aktif dari jenis gunung stratovolcano ini berada di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Agustus 2010, gunung sinabung untuk pertama kalinya sejak tahun 1600 mengeluarkan lava panasnya. Setelah lebih dari 400 tahun tertidur pulas, deleng sinabung menyeburkan laharnya. Akibat letusannya yang pertama kali sejak 400 tahun silam, dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara serta satu orang dilaporkan meninggal dunia karena gangguan pernafasan ketika mengungsi dari rumahnya.

Hasil gambar untuk gunung sinabung
Gunung Sinabung

Rentetan Letusan Gunung Sinabung
September 2013 hingga awal tahun 2014, Gunung Sinabung kembali meletuskan awan panas dan abu vulkanik. Pergantian status silih berganti mulai dari level “waspada” hingga level “awas”. Pada 24 November 2013 hingga 3 Januari 2014 level “awas” tetap bertahan. Guguran lava pijar dan semburan awan panas membombardir kawasan disekitar gunung sinabung.
Mulai tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas terus-menerus sampai hari berikutnya. Hal ini memaksa lebih dari  20 ribu orang mengungsi. Puluhan orang dinyatakan tewas dan beberapa orang luka- luka terkena luncuran awan panas akibat rentetan letusan 2013 hingga 2014.
Pada bulan Mei 2016, Gunung sinabung kembali meletus dan mengeluarkan awan panas. Agustus 2016, erupsi disertai awan panas guguran secara terus menerus berlangsung di Gunung Sinabung disertai gempa guguran yang tinggi.
Sepanjang tahun 2017 hingga saat ini, erupsi gunung sinabung masih beraktivitas dan meluncurkan awan panas terus- menerus. Hingga saat ini, status gunung sinabung belum mengalami perubahaan dan tetap pada level “awas” Ribuan warga disekitar gunung sinabung masih mengungsi hingga sekarang.

Kamis, 16 November 2017

(2017) Tahun Terpanas Tanpa El-Nino

Oleh Presli Panusunan Simanjuntak

Pernyataan mengejutkan ini dikeluarkan oleh World Meteorological Organization (WMO) pada Senin (6/11/2017) di konferensi perubahan iklim PBB COP23 di Bonn, Jerman bahwa Tahun 2017 adalah tahun dengan suhu terpanas dalam abad ini tanpa pengaruh adanya el-nino.

Pertanyaan itu menyatakan dari bulan Januari hingga bulan Oktober tahun 2017, kenaikan suhu rata-rata global (global temperature) mencapai angka 1,1 derajat celcius setalah era pra-industri. Padahal, batasan kenaikan suhu yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015 hanya 1,5 derajat celcius.

Badan PBB yang mengurusi kegiatan meteorologi tersebut mengatakan bahwa ada sekitar 30 persen populasi penduduk bumi sekarang ini mengalami "suhu panas yang ekstrem" setidaknya beberapa hari setiap tahunnya.

                  Hasil gambar untuk suhu terpanas

Dampak suhu terpanas ini dirasakan diseluruh belahan dunia, baik belahan utara, selatan maupun tropis. Pemanasan global melalui peningkatan gas rumah kaca (GRK) disebut sebagai salah satu “biang keladi”  dari naiknya suhu dunia dan cuaca ekstrem akhir-akhir ini. Aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca sangat signifikan yang membawa tanda perubahaan iklim semakin terlihat dan tak terelakkan.

Konsentrasi gas rumah kaca yang ada diatmosfer mendorong pemanasan global terus meningkat salah satunya adaah peningkatan secara drastis gas karbon dioksida (CO2). Angka CO2 saat ini bahkan menyentuh 403,3 bagian per juta (ppm), yang tertinggi setidaknya dalam 800.000 tahun terakhir.

Sementara itu, gas rumah kaca yang paling berpolusi kedua adalah metana (CH4). Angka gas ini juga meningkat dalam beberapa dekade terakhir, didorong oleh kebocoran dari ledakan fracking industri gas dan pertumbuhan ternak global.
Kita bisa bayangkan jika setiap tahun kenaikan suhu muka bumi meningkat secara signifikan maka mau tidak mau kita harus “mencari planet lain” yang senyaman bumi.


Selasa, 14 November 2017

(Ternyata) Perubahaan Iklim Beda dengan Pemanasan Global

Oleh Presli Panusunan Simanjuntak

Sobat sekalian pasti sering menyamaratakan atau menyamaartikan Perubahaan iklim dan pemanasan global ? Jika sobat berpikir demikian, mari segera bertobat sobat sebelum kekeliruan sobat semakin menggerogoti kehidupan sobat
Jadi, Perubahaan Iklim dan Pemanasan Global itu berbeda sobat akan tetapi saling mempengaruhi.
Pemanasan global atau global warming itu adalah rata-rata suhu seluruh permukaan bumi (earth temperature) mengalami peningkatan baik karena faktor alami (misalnya pengaruh intensitas cahaya matahari,) ataupun memang karena ulah kita-kita manusia ini sobat.  Pemanasan global semakin populer karena dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan bumi lebih cepat dari peningkatan alami karena ulah manusia.

Hasil gambar untuk perubahaan iklim dan pemanasan global

Sedangkan perubahan iklim (climate change) seperti yang saya jelaskan tadi sobat adalah perubahan karakteristik iklim disuatu daerah, meliputi suhu, kelembaban, curah hujan, angin dan sebagainya. Jadi pada satu daerah tertentu iklim bisa lebih panas dari tahun, puluhan tahun atau ratusan tahun sebelumnya, dan sebaliknya di didaerah lain iklim lebih dingin dari biasanya. Bisa juga disatu daerah pada waktu tertentu yang biasanya dingin menjadi lebih hangat (seperti dinegara-negara eropa saat ini),  atau sebaliknya daerah yang biasanya hangat tiba-tiba terjadi hujan es atau salju. Inilah yang dinamakan perubahan iklim.
Mungkin sobat sering mendengar berita banjir, gelombang panas atau badai. Mungkin dulu juga para petani dikampung sobat dapat meramalkan masa panen, masa tanam sesuai dengan iklimnya nah tiba-tiba iklimnya berubah dan masa tanam serta masa panen tidak dapat ditebak lagi oleh para petani veteran dikampung sobat. Nah, kejadian- kejadian itulah yang kita sebut perubahaan iklim meskipun tetap ada hubungannya dengan pemanasan global . Jadi bergesernya pola iklim yang biasanya menjadi tidak biasa. Nah kalau ada berita mencairnya es dikutub atau di gunung- gunung yang biasanya bersalju itu yang disebut karena pemanasan global.
Jadi, Pemanasan Global dan Perubahaan Iklim itu berbeda ya sobat tapi tetap saling mempengaruhi. Kita ibaratkan Perubahaan Iklim adalah Sebuah Negara nah, Pemanasan Global itulah yang disebut provinsinya. Isu Pemanasan Global dan Perubahaan Iklim dikaitkan karena kesamaannya dalam hal kenegatifan seperti gelombang panas, es mencair dsb


Kamis, 05 Oktober 2017

CURRICULUM VITAE

Doakan Kerjamu, Kerjakan Doamu
Yakinlah Kau Sukses
#PencintaIlmuIklim

Presli Panusunan Simanjuntak, lahir di Kota Pematangsiantar, 06 Juni 1996. Saat ini sebagai Mahasiswa (Taruna) Tugas Belajar di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Pencinta ilmu kebumian dan iklim





   





PENDIDIKAN FORMAL


Tahun 2002- 2008
: SD RK Budi Mulia 3 Kabupaten Simalungun
Tahun 2008- 2011
: SMP Budi Mulia Kota Pematangsiantar
Tahun 2011- 2014
: SMA Budi Mulia Kota Pematangsiantar
Tahun 2014- 2015
: Diploma 1 (D1) Klimatologi- STMKG
Tahun 2017- Sekarang
: Tugas Belajar Diploma IV (DIV) Klimatologi STMKG



PENGALAMAN KERJA

1. Pengamat Cuaca (Observer) di Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir (Bandar UdaraUdara Depati Amir) Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Maret 2016- Januari 2017)

2.   Pengamat Cuaca (Observer) di Stasiun Klimatologi Kelas IV Koba Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Januari 2017- Maret 2017)

3.   Pengajar Matematika dan Fisika di Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) A&B Jakarta (2015- 2016)

4.   Panitia Sekolah Lapang Iklim Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (2016)

5.   Panitia Sosialisasi Pos Hujan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (2016)




PENGALAMAN ORGANISASI

1.   Ketua Areka (Anak Remaja Katolik) Gereja St. Maria Perumnas Kab. Simalungun (2009-2010)

2.   Wakil Ketua Kerohanian Katolik (Rokat) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2017 – sekarang)

3.   Anggota Paduan Suara (Padus) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2014- sekarang)

4.   Devisi Internal IPTEK dan Jurnalistik (IPJ) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2014 – sekarang)

5.   Kepala Keprofesian Klimatologi - Himpunan Taruna Meteorologi Klimatologi (HTMK) Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2017- sekarang)



PUBLIKASI ILMIAH & PENGALAMAN PEMATERI ORAL


1.   Simanjuntak, P.P. 2016. Respon Suhu dan Kelembapan Udara Saat Kejadian Gerhana Matahari Total, 9 Maret 2016. Buletin Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Vol 6 No. 5. ISSN 2088- 9151

2.   Pemateri Oral pada Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya (SENFA) Universitas Padjajaran Bandung. Judul : Analisis Karakteristik Curah Hujan Dan Kurva Intensity Duration Frequency (IDF) di Palembang. 22 Juli 2017


PUBLIKASI POPULER

1.   Kabut Asap Riau Ganggu Sumatera Utara. Harian Analisa, 3 September 2015

2.   Mengkondisikan Iklim Melayu Deli. Waspada Online, 21 Oktober 2015.

3.   Iklim Dunia Bergantung Hutan Indonesia, Majalah Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Edisi Januari 2016.

4.   Seriuskah Indonesia Menghadapi Perubahaan Iklim, Majalah Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Edisi Januari 2017.


PRESTASI & PENGHARGAAN

1.   Juara II Menulis Puisi Lentera Pos 2012

2.   Beasiswa Pendidikan Diploma I BMKG 2014.

3.   Beasiswa Pendidikan Diploma IV BMKG 2017. 

Sabtu, 02 April 2016

MENGENALI CUACA DENGAN TANDA TANDA ALAM

Oleh : Achmad Zakir
(Dosen Tetap Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika)

Apa yang ada di pikiran kita ?, ketika melihat awan gelap ? pasti jawabannya sebentar lagi hujan deras , tapi tiba-tiba justru sebaliknya cuaca dengan cepatnya berubah menjadi cerah. Apa yang menyebakan itu semuanya, bagi pakar cuaca sudah biasa dengan keadaan seperti itu, tapi bagi masyarakat awam malah heran dan aneh. Bahkan ketika cuaca cerah keesokan harinya malah hujan lebat terus menerus sehingga mengakibatkan bencana seperti banjir, bencana lagi....!!
Bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan terus merajela di permukaan bumi ini termasuk Indonesia . Tidak hanya Indonesia saja tapi bencana melanda juga negara manca negara, sebagian para pakar cuaca mengatakan bahwa benncana ini diakibatkan dari perubahn iklim ada juga yang mengatakan perubahan lingkungan akibat, sebagian lagi mengatakan hanya variabilitas iklim bahkan ada juga mengatakan bencana yang terjadi disuatu Negara turut andil untuk memicu bencana di Negara lainnya, benarkah demikan ? bencana seperti banjir dan tanah longsor selalu dikaitkan dengan cuaca ekstrim, cuaca ekstrim dikaitkan dengan siklon tropis, siklon tropis dikaitakan dengan El Nino atau La Nina atau Maddem Julian Oscilation atau Dipole Mode dan sebagainya.
Dari rentetan kejadian bencana akibat cuaca ekstrim yang hampir setiap tahun terjadi, memicu para pakar meteorologi berupaya untuk mengemukan hasil analisanya atau bahkan memberikan prediksi cuaca kedepannya. Hasil kajian atau analisanya dan prediksi nya menggunakan prinsip-prinsip fisika dan matematika atau metode-metode ilmiah, itupun tingkat akurasinya belum memuaskan. Kenapa belum memuaskan, karena salah satu penyebannya melupakan skala meteorologi atau skala fenomena cuaca. Skala ini sangat berguna untuk menganalisa cuaca dalam ruang dan waktu, sebab cuaca adalah fungsi ruang dan waktu. Tidak ada salahnya, dalam tulisan ini menjelaskan kembali tentang skala meteorologi, sebagai ilustrasi saja bahwa dalam membuat analisa cuaca, seorang prakirawan wajib memahami tentang skala meteorologi karena hal ini sangat penting, agar hasil analisanya sesuai dengan fenomena cuaca yang terjadi (zakir, 2008). Adapun skala meteorologi yang dikemukan oleh Lembaga Meteorollgi Dunia (WMO, 1980), yaitu :

Rabu, 16 Desember 2015

Mengkondinisikan Iklim Melayu deli

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak
Taruna Aktif Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Dimuat di Waspada- Artikel Pembaca , 21 Oktober 2015

Kota Melayu Deli atau kota Medan adalah kota metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa dan kota terbesar ketiga di Indonesia. Sebagai kota metrpolitan, Medan banyak dirundung masalah- masalah yang sifatnya simple hingga ketingkat yang lebih kompleks. Masalah- masalah yang merundung kota Medan bisa datang dari geografis, SDM (Sumber Daya Manusia)  dan atau Manajemen SDM yang mejalankan kota Medan.
Kota Medan

Kompleksitas iklim di Medan menambahkan deretan masalah kota ini. Karena dekat dengan Khatulistiwa, Medan terogolong daerah beriklim tropis. Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata tahunan di Medan adalah 26,8 0C. Dalam setahun, curah hujan rata-rata kota Melayu Deli ini adalah 2137 mm. Terdapat curah hujan yang signifikan sepanjang tahun di Medan. Bahkan bulan terkering yang biasanya jatuh pada bulan Februari masih memiliki banyak curah hujan yaitu berkisar 90 mm.

(Teruslah) Berjalan dan Bernyanyi

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak
(15 November 2013)

Aku tak peduli  suara hujan yang memukul-mukul dedaunan
Dengan tongkat dan sepatu jerami aku masih dapat bernyanyi dan berjalan pelan bukan ?
Badai yang menghadang ?
Kenapa takut ?
Angin dingin menusuk nusuk kulit
Kenapa khawatir ?
Awan badai menutup mentari
Kenapa ngeri ?

Aku hanya perlu terus berjalan dan bernyanyi
Itu akan padamkan jeri
Aku akan raih puncak gunung jauh di sana,
matahari terbenam yang mengganti derasnya hujan
akan datang menyambutku.
Aku akan injak dan hapus lelahku di atas sana
Aku yakin horison siap menerimaku
Memandikanku dengan gemercik warna-warninya

Aku (Masih) Hidup

Oleh: Presli Panusunan Simanjuntak
(14 November 2013)

Aku hidup karena aku masih hidup
Tak perlu suatu alasan kenapa aku masih hidup
Aku bernafas karena saat ini udara masih keluar masuk paru-paruku
Tak perlu suatu alasan kenapa aku masih bernafas

Jalanku diterjang…
Orang-orang mencaciku..
Mengaanggapku  jalang…


















Aku tak punya alasan untuk tak disebut jalang
Yang aku tahu aku hanya punya satu alasan untuk selalu mecari  alasan…

Senin, 16 November 2015

Rizal Ramli dan Perubahan Iklim

                                         Oleh : IGG Maha Adi
   Direktur The Society of Indonesian Environmental Journalist
                                               KORAN TEMPO, 16 September 2015                                                                                                                                  
Apabila Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli konsisten dengan sikapnya menolak proyek listrik bertenaga batu bara 35 ribu megawatt, ia layak menjadi climate champion. Meski tidak pernah menghubungkan sikapnya dengan isu perubahan iklim atau komitmen penurunan emisi pemerintah, rasionalisasi Menteri Rizal dalam menjelaskan proyek listrik itu sedang berhadapan dengan salah satu sumber energi yang mengemisikan karbon paling tinggi.

Menteri Rizal menohok klaim proyek itu pada nilai ekonominya. Ia yakin rencana pembangunan pembangkit listrik batu bara 35 ribu MW plus 7 MW tersisa dari zaman Presiden Yudhoyono, ditambah pula kapasitas seluruh pembangkit yang beroperasi saat ini, tidak realistis karena menyebabkan kelebihan daya 21 ribu MW. Kelebihan itu bisa menyulitkan Perusahaan Listrik Negara, karena harus membeli 72 persen daya tersisa. Ia menyarankan target itu diturunkan menjadi dua pertiga atau setengahnya. Ini sebuah kabar baik untuk target pengurangan emisi nasional.