Sabtu, 29 Agustus 2015

Iklim Berubah, Penyakit Berdatangan !

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak
Taruna Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 

Indonesia adalah negara kepulauan di lingkungan tropis yang memiliki kelembapan udara yang kerap berubah karena adanya dua musim berbeda. Indonesia pun tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim dan telah mengalaminya sekarang. Kenaikan temperatur yang terjadi di Indonesia akan mempengaruhi kelembaban dan mengundang mikroorganisme jahat di alam dan sangat memungkinkan membawa penyakit bagi makhluk hidup.
Iklim Berubah, Kita juga Harus Berubah !

Resiko yang didapat itu diawali dari tindakan manusia sendiri, akibat aktivitas yang tidak pro dengan alam itu manusia harus menerima akibatnya. Selama berpuluh- puluh tahun pembakaran fosil yang mengeluarkan banyak karbondioksida dan gas rumah kaca telah menyakiti alam. Hal itulah yang memicu peningktan suhu panas diatmosferdan memicu bergejolaknya perubahaan iklim secara global. Suhu bumi telah meningkat cukup tinggi sekitar 0,75 derajat/100 tahun. Bahkan tahun 2015 memasuki tahun yang paling panas sejak 1850. Gas rumah kaca di lapisan atmosfer yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia juga telah membuat suhu bumi yang terus menghangat tak lagi bisa dielakkan. Beberapa tahun ini, konsentrasi gas rumah kaca telah mencapai rekor tertinggi, 393,1 ppm, atau naik 2,2 ppm.

Perubahan iklim ini mampu memengaruhi faktor sosial dan lingkungan kesehatan, termasuk di antaranya kebutuhan akan air bersih, air minum dan makanan yang mencukupi, serta tempat tinggal yang amandan sehat. Bahakan WHO dalam situsnya  memprediksi, antara 2030 hingga 2050, perubahan iklim akan menyebabkan penambahan 250.000 kematian per tahun. Angka itu didapat karena malnutrisi (95.000 anak-anak), malaria (60.000), diare (48.000), dan stres akan panas (38.000 orang tua). Sungguh angka kematian yang sangat fantastis.

Perubahaan iklim sendiri memengaruhi penyakit yang menginfeksi melalui air, penyakit yang ditularkan serangga, siput atau hewan lainnya. Perubahan iklim mampu memperpanjang musim penyakit dan mengubah jangkauan geografis (jangkauan penyakit) menjadi lebih luas. Penyakit yang paling akrab dengan pengaruh iklim adalah malaria yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles dan membunuh hampir 800.000 orang per tahun dan anak- anak adalah korban terbanyaknya. Jika perubahaan iklim ini tidak mendapatkan tindakan mitigasi dan adaptasi yang sepadan dimungkinkan 2 miliyar manusia akan meninggal padan tahun 2080. Masyarakat Desa, Kota kecil, kota metropolitan, masyarakat pegunungan bahkan Masyarakat pesisir  berpeluang diganngu penyakit yang diakibatkan perubahaan iklim.

Penyakit seperti malaria dan penyakit menular lainnya hanya sebagian penyakit yang diakibatkan oleh perubahaan iklim karena Penyakit tidak menular juga ada. Kelembapan wilayah karena perubahan iklim bisa memicu asma, infeksi saluran pernapasan (ISPA) dikarenakan asap atau debu yang tidak terkendali lagi, diare hingga kekurangan gizi karena pengan . Oleh karena itu, kita diminta untuk menjaga lingkungan agar perubahan iklim tidak semakin parah, tindakan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahaan iklim sangat dibutuhkan sekarang ini dan selamanya. Faktor lingkungan termasuk faktor iklim saat ini menjadi faktor terbesar penyebab penyakit di dunia sekitar 40% penyakit disebabkan oleh lingkungan (termasuk iklim) , 30 % karena faktor gaya hidup dan perilaku, pelayanan kesahatan 20 % dan faktor genetik 10%. Sungguh alam dan iklim sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan didunia ini.


Mari sadar !

Kesadaran masyarakat sangat berpengaruh besar dalam mencegah peningkatan penyakit karena perubahan iklim. Bahkan, jika pemerintah telah melakukan berbagai cara, kondisi ini tetap akan sulit pelaksanaannya. Karena, masalah perubahan iklim adalah masalah bersama, baik masyarakat, pemerintah dan sektor swasta.


Bagi masyarakat tindakan preventif dilingkungan harus diupayakan baik di keluarga atau di lingkungan masayarakat. Masyarakat diajak dalam  upaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat. Ada baiknya menggunakan barang ramah lingkungan, memproteksi diri, konstruksi dan situasi rumah yang harus sehat, jaminan akses terhadap air bersih, dan tidak membuang sampah sembarangan Jadi masalah ini bukat hanya dibebankan pada satu orang, satu kelompok atau satu instansi saja.

0 komentar:

Posting Komentar