Rabu, 16 Desember 2015

Mengkondinisikan Iklim Melayu deli

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak
Taruna Aktif Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Dimuat di Waspada- Artikel Pembaca , 21 Oktober 2015

Kota Melayu Deli atau kota Medan adalah kota metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa dan kota terbesar ketiga di Indonesia. Sebagai kota metrpolitan, Medan banyak dirundung masalah- masalah yang sifatnya simple hingga ketingkat yang lebih kompleks. Masalah- masalah yang merundung kota Medan bisa datang dari geografis, SDM (Sumber Daya Manusia)  dan atau Manajemen SDM yang mejalankan kota Medan.
Kota Medan

Kompleksitas iklim di Medan menambahkan deretan masalah kota ini. Karena dekat dengan Khatulistiwa, Medan terogolong daerah beriklim tropis. Menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata tahunan di Medan adalah 26,8 0C. Dalam setahun, curah hujan rata-rata kota Melayu Deli ini adalah 2137 mm. Terdapat curah hujan yang signifikan sepanjang tahun di Medan. Bahkan bulan terkering yang biasanya jatuh pada bulan Februari masih memiliki banyak curah hujan yaitu berkisar 90 mm.

Jika dilihat dari data yang ada, Medan adalah daerah yang rentan terhadap banjir. Sumber data BMKG juga menyebutkan puncak prespitasi (hujan) terjadi pada bulan Oktober dengan rata-rata 285 mm. Tidak heran jika pada bulan Oktober ini akan banyak terjadi hujan lebat yang berakibat banjir di kota Medan. Seperti, hujan deras pada Senin, 19 Oktober 2015 yang lalu menguyur dan merendam 6 kecamatan di kota Medan yaitu Kecamatan Medan Baru, Medan Selayang, Medan Johor, Medan Petisah, Medan Polonia, dan Medan Merelan.

Untuk menjalankan kota Medan yang notabene merupakan salah satu kota penyokong berbagai sektor nasional, pemangku kepentingan (stakeholder) di kota Medan harus saling berkoordinasi dalam membaca iklim dan mengambil kebijakan terkait dengan iklim yang terjadi dan yang akan terjadi. Iklim bisa sangat mempengaruhi stabilitas lokal maupun nasional.

Iklim harus menjadi kurikulum dalam pengambilan kebijakan

Iklim harus menjadi salah satu kurikulum yang penting bagi pemangku kebijakan sehingga mampu memberikan  bentuk preventif dan represif terhadap suatu kejadian. Berfikir dan bertindak strategis serta senantiasa belajar dari iklim akan memudahkan mengambil kebijakan yang akan diputuskan dan dilakukan. Pemangku kebijakan juga bisa berkoordinasi dengan BMKG selaku lembaga nasional yang bergerak di bidang informasi cuaca dan iklim untuk  membaca dan menerjemahkan cuaca dan iklim yang ada.

Kalau bulan ini memasuki musim penghujan maka pemerintah kota Medan dan lembaga yang terkait harus mewaspadai bencana seperti banjir atau longsor. Pembangunan infrastruktur harus dilakukan sebelum bencana itu muncul. Semisal, jika informasi menyebutkan bulan Oktober adalah puncak hujan di kota Medan, maka Pemerintah Daerah (Pemda) kota Medan dan masyarkat setidaknya sudah memperbaiki sistem drainase atau  melakukan pemanenan air hujan di daerah-daerah rawan banjir jauh hari sebelum bulan Oktober. 

Medan banjir, daerah lain kekeringan

            Banyak daerah di Indonesia yang sedang dilanda kemarau berkepanjangan yang berakibat pada kebakaran hutan dan gambut. Daerah-daerah tersebut meliputi Sumatera bagian selatan (Sumatera Selatan, Riau, Jambi), Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah, kalimatan Selatan dan Kalimantan Timur), hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa, Sulawesi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Sulawesi Utara), Maluku Utara, dan daerah di bagian selatan Papua. Salah satu faktor terbesarnya adalah El Nino.

El Nino adalah peningkatan  suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Ekuator di sebelah barat Amerika Selatan di atas rerata klimatologisnya. Peningkatan suhu terjadi di wilayah yang sering juga disebut sebagai kolam hangat (warm pool) di Pasifik. Menurut BMKG, El Nino bergerak menguat secara global mulai dari Samudra Pasifik sekitar Ekuator, yaitu daerah sekitar Chili, Peru, dan Amerika Latin dan menjalar terus ke Indonesia bagian Timur dan daerah-dearah yang terletak di Lintang Selatan ( daerah dibawah lintang 10 derajat lintang selatan ) seperti daerah  Sumatera bagian barat dan selatan, Jawa bagian selatan,Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian utara, Papua. Daerah yang dilewati El Nino akan mengalami kemarau yang lebih panjang dan suhu yang tinggi.

Disaat kebanyakan daerah di Indonesia mengalami kekeringan, kota Medan malah kebanjiran. 6 Kecamatan di Medan harus terendam banjir karena hujan deras yang menguyur Senin, 19 Oktober 2015 yang lalu. Ini dikarenakan musim hujan di wilayah Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat tidak terganggu oleh El Nino. El Nino tidak menjalar hingga wilayah bagian Utara Indonesia sehingga musim hujan yang puncaknya di bulan Oktober di Sumatera Utara khusunya Medan sama sekali tidak terganggu oleh El Nino.

Masyarakat Harus Terlibat

            Selain pengambil kebijakan (stakeholder) Kota Medan, Masyarakat Kota Medan juga harus mampu megkondinisikan iklim baik terhadap lingkungan, keluarga dan dirinya sendiri. Masyarakat juga harus bisa belajar dengan iklim karena dengan belajar dengan iklim maka akan tahu gerak yang akan dilakukan. Bulan Januari sampai Juli  biasanya curah hujan di Medan lebih sedikit (musim kemarau) sementara bulan Agustus sampai Desember biasanya curah hujan di Medan lebih tinggi (musim hujan).

            Dengan membaca iklim dan merasakannya sendiri, masyarakat bisa bergerak sesuai dengan kondisi iklim. Semisal, sebelum memasuki bulan penghujan, masyarakat bisa bergotong royong membersihkan dan merapikan saluran drainase agar nanti ketika musim penghujan tiba kebanjiran dapat diminimalisir atau bahkan tidak terjadi kebanjiran. Jika sudah musim kemarau, masyarakat yang bekerja sebagai petani bisa diarahkan menanam tanaman jagung dan jika sudah kering bisa ditanami singkong karena padi tidak baik ditanam saat kemarau kering. Atau ketika musim hujan, masyarakat bisa menyimpan air dan memanen air untuk digunakan saat musim kemarau.

            Memiliki kompleksitas iklim membuat kota Medan memiliki segudang masalah dalam penentuan arah dan langkah suatu kebijakan. Untuk mengatasinya diperlukan informasi yang tepat untuk menentukan kebijakan yang tepat pula. Mengkondisikan iklim terhadap penentuan langkah dan kebijakan yang akan dibuat dan dilaksanakan akan sangat berguna bagi kemajuan dan keberlangsungan kota Medan. Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah kota Medan sebagai pembuat kebijakan dan masyarakat kota Medan sebagai subjek dan objek kebijakan harus memandang iklim sebagai suatu yang penting dalam penentuan arah dan langkah kota Medan sebagai ibukota Sumatera Utara yang lebih baik kedepannya.

0 komentar:

Posting Komentar