Jumat, 17 November 2017

Erupsi Gunung Sinabung Pengaruhi Perubahaan Iklim

Oleh : Presli Panusunan Simanjuntak

Erupsi gunung Sinabung kini menjadi bencana nasional yang viral di Indonesia bahkan dunia. Siapa yang menyangka, deleng sinabung dengan ketinggian 2.451 meter mendadak aktif kembali dan meletus setelah ratusan tahun tertidur. Gunung api aktif dari jenis gunung stratovolcano ini berada di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Agustus 2010, gunung sinabung untuk pertama kalinya sejak tahun 1600 mengeluarkan lava panasnya. Setelah lebih dari 400 tahun tertidur pulas, deleng sinabung menyeburkan laharnya. Akibat letusannya yang pertama kali sejak 400 tahun silam, dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara serta satu orang dilaporkan meninggal dunia karena gangguan pernafasan ketika mengungsi dari rumahnya.

Hasil gambar untuk gunung sinabung
Gunung Sinabung

Rentetan Letusan Gunung Sinabung
September 2013 hingga awal tahun 2014, Gunung Sinabung kembali meletuskan awan panas dan abu vulkanik. Pergantian status silih berganti mulai dari level “waspada” hingga level “awas”. Pada 24 November 2013 hingga 3 Januari 2014 level “awas” tetap bertahan. Guguran lava pijar dan semburan awan panas membombardir kawasan disekitar gunung sinabung.
Mulai tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas terus-menerus sampai hari berikutnya. Hal ini memaksa lebih dari  20 ribu orang mengungsi. Puluhan orang dinyatakan tewas dan beberapa orang luka- luka terkena luncuran awan panas akibat rentetan letusan 2013 hingga 2014.
Pada bulan Mei 2016, Gunung sinabung kembali meletus dan mengeluarkan awan panas. Agustus 2016, erupsi disertai awan panas guguran secara terus menerus berlangsung di Gunung Sinabung disertai gempa guguran yang tinggi.
Sepanjang tahun 2017 hingga saat ini, erupsi gunung sinabung masih beraktivitas dan meluncurkan awan panas terus- menerus. Hingga saat ini, status gunung sinabung belum mengalami perubahaan dan tetap pada level “awas” Ribuan warga disekitar gunung sinabung masih mengungsi hingga sekarang.

Pengaruhnya Terhadap Perubahaan Iklim
Secara bertahap selama 7 tahun terakhir aktivitas vulkanik, letusan gunung sinabung secara sporadis mengubah tatanan iklim. Setelah bangun dari tidur panjangnya selama 400 tahun, aktivitas gunung sinabung dengan mengeluarkan erupsi debu dan awan panas membuat tatanan iklim disekitarnya khususnya menjadi berubah dan meracuni atmosfer dan hidrosfer yang ada.  
Ditinjau dari gejala fisis atmosfernya yang terjadi akibat letusan gunung merapi yang memuntahkan awan panas dapat menyebabkan suhu di daerah sekitar gunung sinabung meningkat dengan  demikian tekanan didaerah letusan merapi menurun atau rendah, yang mana kelembaban (RH) juga menurun sehingga bersifat kering.
Partikel- partikel padat yang berupa debu vulkanik yang dikeluarkan oleh erupsi gunung sinabung juga akan menghalangi proses radiasi matahari sehingga tidak dapat masuk kepermukaan bumi sehingga menyebabkan suhu di daerah tersebut rendah (menurun). yang mana  hal tersebut juga mempengaruhi tatanan iklim ,karena radiasi matahari merupakan salah satu unsur utama dari unsur-unsur yang mempengaruhi cuaca dan iklim.

Hasil gambar untuk gunung sinabung
Gunung Sinabung Mempengaruhi Tata Iklim
 
Letusan Gunung Tidak Meningkatkan Pemanasan Global

Letusan gunung sinabung memang dapat meningkatkan pemanasan global dengan menambahkan CO2 ke atmosfer. Walaupun, jumlah CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia setiap tahun masih lebih besar daripada letusan gunung berapi. Akan tetapi, biasanya efek kabut (haze) letusan gunung berapi memiliki efek kabut lebih besar dari pada efek rumah kaca, dan dengan demikian mereka dapat menurunkan suhu global rata-rata. 

0 komentar:

Posting Komentar